Optimalisasi Program Keluarga Harapan dalam Rangka Memutuskan Mata Rantai Kemiskinan

Optimalisasi
Program Keluarga Harapan dalam Rangka Memutuskan Mata Rantai Kemiskinan

Keseriusan pemerintah pusat melalui Kementerian
Sosial dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dalam rangka  memutus mata rantai kemiskinan, semakin
tampak nyata. Hal
ini terlihat melalui penambahan kuota Pendamping PKH yang akan ditempatkan di
daerah-daerah untuk melakukan tugas
pendampingan. Pendamping PKH adalah
sumber daya manusia yang direkrut dan ditetapkan oleh Kementerian Sosial
sebagai pelaksana pendampingan di tingkat Kecamatan.

Sarah, selaku koordinator Kabupaten, mengungkapkan,  “Pada tahun 2013 awal masuknya Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten
Nunukan, saat itu terdapat sembilan pendamping PKH dan satu operator, namun
saat ini tahun 2015 setelah berjalan sekitar dua tahun ada penambahan pendamping
lagi, besar harapan
selanjutnya tiap-tiap kecamatan di kabupaten Nunukan ini ada pendamping PKHnya
minimalnya dua orang, agar pelayanan
terhadap masyarakat tambah maksimal, khususnya pada warga miskin.”

KABID Sosial, Alis
Sujono, yang
juga selaku Ketua UPPKH
Kabupaten, ketika ditemui, mengatakan bahwa,
Penambahan pendamping dimaksudkan untuk lebih memaksimalkan program PKH ini, agar
lebih merata, dirasakan masyarakat sampai ke daerah-daerah pelosok khususnya di kabupaten Nunukan. Pada saat ini setelah rekrutmen
pendamping baru terdapat penambahan empat pendamping dan satu operator yang
akan ditempatkan di Lumbis, Lumbis Ogong, Tulin Onsoi, Sebatik Timur, dan
operator yang bertugas di kabupaten Nunukan.

Lanjut Ketua UPPKH Kabupaten, “Para
pendamping dalam melakukan tugas, mereka dibekali berbagai pengetahuan baik itu
melalui Diklat atau Bimtek. hal ini
dilakukan sebagai upaya pembekalan kepada
para pendamping PKH, agar nantinya ketika turun lapangan tidak
kesulitan, khususnya dalam menjelaskan dan menjawab berbagai pertanyaan yang
muncul. Pada
tanggal 4 November 2015 telah dilaksanakan Bimbingan Teknis Kepada para
pendamping PKH. Acara
Pembukaan berlangsung di Lantai V Kantor Bupati Nunukan dan selanjutnya
dilanjutkan di Kantor Dinas Sosial.

Herlina, S.Pd.I selaku Pendamping PKH yang ditugaskan
di Kecamatan Sebatik Timur mengatakan “Ada kebanggaan tersendiri bisa menjadi pendamping PKH karena melalui program ini setidaknya bisa ikut berkontribusi langsung
dalam upaya pengentasan kemiskinan, bisa menjalin perkenalan lebih dekat dengan KSM, memberikan edukasi dan motivasi agar
bisa meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan anak-anaknya.
Meskipun demikian disisi lain terkadang ada beberapa kendala yang dihadapi,
seperti adanya sebagian perangkat Desa yang mempersoalkan data peserta penerima
bantuan.”

Lanjut, Herlina, “Sebagai langkah awal
dalam memulai tugas pendampingan terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM), dimulai
dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat, seperti; Kecamatan
dengan perangkatnya, Desa beserta perangkatnya sampai ke tingkat Rt. Selain
itu, juga melakukan koordinasi dengan pihak dari layanan Fasilitas Kesehatan
dan Fasilitas Pendidikan, sebab program ini terkait dengan kesemuanya itu,
dalam kaitannya mengeluarkan KSM ini dari belenggu kemiskinan melalui
Pendidikan dan Kesehatan. Langkah selanjutnya mengundang KSM calon penerima
bantuan untuk melakukan pertemuan awal lalu diadakanlah validasi data by name
by adress sesuai data yang telah ada.”

Pada pertemuan awal yang dilakukan di Balai
Pertemuan Umum (BPU) kantor Desa Sungai Nyamuk dihadiri Kurang lebih 100 orang
KSM. Dalam pertemuan tersebut sempat dihadiri kepala Puskesmas Sungai
Nyamuk,  Rahmila, beliau mengungkapkan,
“Program ini sangat baik dapat membantu masyarakat, apalagi saat ini  motivasi kunjungan ke puskesmas masih kurang,
padahal untuk ibu hamil, nifas dan menyusui sangat penting untuk dijaga keseimbangan
gizi mereka demi anak-anaknya. Ketika tidak diperhatikan maka hal ini akan
menyebabkan anaknya nanti akan mengalami kurang gizi.

Lanjut rahmila, “Saat ini anak-anak yang
kurang gizi masih tergolong banyak, oleh karena itu semoga dengan adanya
program ini nantinya kesehatan kita semakin meningkat.” katanya.

PKH diharapkan dapat mengubah perilaku KSM
untuk memeriksakan ibu hamil, nifas, atau balita ke fasilitas kesehatan, dan
mengirim anak ke sekolah dan fasilitas pendidikan. Dalam jangka panjang, PKH diharapkan
dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.

Bantuan PKH diberikan
kepada ibu atau wanita dewasa yang mengurus anak pada keluarga bersangkutan.
Jika tidak ada ibu, yang menerima adalah kakak perempuan dewasa. Yang berhak
mengambil pembayaran adalah yang namanya tercantum di kartu PKH dan bukan
wakilnya. Bantuan minimun per KSM antara Rp 950 ribu hingga Rp 3,7 juta per
tahunnya.


Wahyuddin, S.Fil.I

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan